Jumat, 15 April 2016

Mentari Dibalik Jilbab


      Aku adalah seorang cwek yang hidup di suatu daerah yang masyarakatnya masih sangat kolot pemikirannya, dan masih sedikit akan pengetahuan agama islam. aku tahu kalo berhijab wajib hukumnya bagi umat islam, tapi aku tak tahu bagimana cara melakukan kewajiban itu, sedangkan keluarga dan biaya untuk membeli pakaian muslimah sangat tidak mendukung. meski begitu aku selalu berharap suatu hari nanti allah pasti memeberi jalan kepadaku untuk melaksanakan kewajiban itu.


       "Setiap saat aku menjalankan sholat, aku harus selalu mengenakan pakaian jilbab." bisik ku dalam hati kecil, tapi segera aku sadar hatiku langsung bedetak "deg" dan wajahku mulai memerah, matakupun berkaca-kaca. aku mulai teringat akan keadaanku yang tidak mungkin untuk membeli pakaian jilbab.


       Orang tuaku bukanlah orang kaya, tetapi juga bukan orang melarat. dan sebenarnya mereka mampu untuk membeli pakian jilbab itu. aku memeaklumi hal itu karena orang tuaku bukan lah golongan orang santri yang mengerti tentang masalah agama, dapat digolongkan islamnya itu hanya islam KTP, sehingga kepentingan berjibab seringkali mereka anggap suatu hal yang neko-neko.


       Tapi aku selalu mencoba untuk bersabar,  aku juga sering kali menceritakan keinginanku itu pada teman-temanku yang sudah berjilbab, tapi tidak juga mendapatkan jalan keluar. aku anggap ini adalah cobaaan bagiku dan aku harus bersabar.


       3 bulan telah berlalu, temanku neza mengatakan kepadaku kalu sekarang ada gerakan 1000 jilbab. jadi anak-anak belum berjilbab mendapatkan bantuan dari anak remas. "Alhamdulillah" ucapanku dalam hati.


       Lega rasa hatiku mendengar perkataan temanku neza.  aku tidak begitu merasa malu mengingat jilbab merupakan kebutuhan, meskipun aku harus mendapatkannya degan orang lain. setelah aku menerima pakaian jilbab dari pihak remas, aku merasa sangat bahagia dan aku kira tak ada lagi cobaan yang berarti karna aku tinggal memakainya tanpa dipungut biaya sepeserpun. tapi kenyataannya tak seindah yang kubayangkan. ternyata mengenakan jilbab lebih berat cobaannya daripada mendapatkannya.


       cobaan yang datang dari berbagi pihak. dari orang tua, kakak, adik, mereka selalu mencemoohku dengan berbagai kata-kata yang kasar dan kotor. yang ngak pantaslah,  dan berbagi macam penghinaan yang lain yang harus aku terima setiap waktu. aku juga sering mengatakan  kalau aku bersikeras memakai jilbab, beliau tidak akan menyekolahkan dan tidak mengurusku lagi. sementara ibuku paling kucintai ternyata berpendapat sama dengan ayahku.


"dengarkan kamu tidak akan mati meskipun kamu tidak memakai jilab" bentak ibuku.
"Tapi bu....!!!"
"tidak tapi-tapian, lagipula kalo belum tahu dalilnya tidak usah berpakian seperti itu. tidak ada gunannya...!!! sela kakakku yang berpendapat dengan mereka.


       aku kecewa sekali mendengar perkataan mereka, aku hanya bisa menjawab dengan tangisan-tangisan yang tidak berarti bagi mereka. seakan-akan aku tak punya siapa-siapa agi di dunia ini. hanya saat sekolah dan mengaji hatiku bisa merasakan tenang dan bahagia. dan hanya satu anak lelaki yang mendukungku untuk memakai jilbab, anamun dia berada jauh dariku. dengan keaadan yang seperti itu aku tidak tahn lagi menghadapinya.


"sabar...sabar... mungkin itu mememang cobaan yang harus kamu hadapi" hibur neza "iya... kamu harus kuat.. kamu harus bersabar... karena membawa kebenaran ditenah kedzaliman itu amatlh muliah" sela salah seorang teman yang selalu setia menemaniku.


"walu sekejam-kejamnya orang tua pasti juga tidak akan membunuh anaknya sendiri" tambahan neza. semua perkataan itu membuatku tenang dan tentram apabila aku berada dirumah.


"apakah orang tuaku termasuk orang yang zalim? " pikirku dalam hatiyang selalu bertanya-tanya.


       Hari demi hari kulewati dengan bersabar meskipun ucapan-ucapan dan kurang baik dari keluargaku itu selalu membuat nafsu amarahku bangkit. namun demikian aku selalu mencoba untuk menghibur diriku sendiri dalam menghadapi semua masalah yang ada.


       Satu bualan aku telah berjilbab aku merasa lega dan bangga pada diriku sendiri karena sejak aat itu aku mulai mengerti bahwa begitu bervariasi hidup di dunia ini, penih dengan tangis, canda ,tawa dan semuanya. benar kata seorang pujangga yang menyatakan bahwa "dunia ini terasa seperti panggung sandiwara yang ceritanya mudah sekali untuk berubah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar