“SAHABATKU ADALAH KAKAKKU”
Aku
adalah seorang gadis yang tentunya mempunyai harapan - harapan yang
ingin sekali kucapai. Salah satu harapan itu adalah ketulusan kasih
sayang seorang kakak. Kakak laki-laki yang dengan ketulusan hatinya
menyayangi aku. Tapi sayangnya, aku anak pertama dan mempunyai satu adik
perempuan. Mustahil sekali kalau aku mengharapkan hadirnya seorang
kakak.
Aku mempunyai banyak sekali teman cowok, entah mereka sudah bekerja ataupun masih bersekolah. Meskipun aku cewek, aku senang bergaul dengan cowok. Aku bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih dari mereka, dibandingkan jika aku bergaul dengan teman cewek. Cowok selalu mengatakan apa yang salah atau kurang benar dari diri aku. Mereka selalu jujur, meskipun terkadang juga menyakitkan. Tapi itu bisa membuat diriku menjadi lebih baik. Berbeda dengan teman cewek, teman cewek selalu ngomongin kekuranganku dibelakangku. Selain itu, cewek lebih cerewet dan jika aku curhat sama mereka, mereka lebih banyak mengomentari aku dan solusinya jarang sekali bisa membuat masalahku selesai. Omelan-omelan saja yang tertinggal ditelinnggaku. Teman cewek jarang sekali jujur. Pasti ada saja yang disembunyikan. Makanya aku kurang nyaman jika aku curhat sama temanku cewek. Tapi di sisi lain, aku juga sangat membutuhkan mereka. Itulah alasannya kenapa aku pengen banget punya kakak cowok. Aku pengen ada yang ngelindungi aku, ada yang ngertiin aku, kapanpun aku butuh teman curhat, dia selalu ada. Pokoknya aku pengen banget punya kakak cowok.
Aku mempunyai banyak sekali teman cowok, entah mereka sudah bekerja ataupun masih bersekolah. Meskipun aku cewek, aku senang bergaul dengan cowok. Aku bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih dari mereka, dibandingkan jika aku bergaul dengan teman cewek. Cowok selalu mengatakan apa yang salah atau kurang benar dari diri aku. Mereka selalu jujur, meskipun terkadang juga menyakitkan. Tapi itu bisa membuat diriku menjadi lebih baik. Berbeda dengan teman cewek, teman cewek selalu ngomongin kekuranganku dibelakangku. Selain itu, cewek lebih cerewet dan jika aku curhat sama mereka, mereka lebih banyak mengomentari aku dan solusinya jarang sekali bisa membuat masalahku selesai. Omelan-omelan saja yang tertinggal ditelinnggaku. Teman cewek jarang sekali jujur. Pasti ada saja yang disembunyikan. Makanya aku kurang nyaman jika aku curhat sama temanku cewek. Tapi di sisi lain, aku juga sangat membutuhkan mereka. Itulah alasannya kenapa aku pengen banget punya kakak cowok. Aku pengen ada yang ngelindungi aku, ada yang ngertiin aku, kapanpun aku butuh teman curhat, dia selalu ada. Pokoknya aku pengen banget punya kakak cowok.
Dari
sekian banyak temanku yang cowok, ada satu yang ingin sekali aku
jadikan kakak. Dia namanya Andi. Dia sudah bekerja dan mempunyai seorang
cewek. Setiap hari aku selalu berkomunikasi dengan dia, entah lewat
telpon ataupun bertemu secara langsung. Setiap aku ada masalah, aku
selalu cerita sama dia. Dia juga selalu dengerin cerita-cerita aku dan
memberi saran yang dapat membantu memecahkan masalahku. Aku nyaman
sekali berteman sama dia. Dia ngerti banget dengan perasaanku. Begitu
juga dengan sebaliknya, dia selalu cerita ke aku kalau dia ada masalah.
Sebisa mungkin aku bantu dia buat mecahin masalahnya, karena aku nggak
pengen mengecewakan dia. Dia sudah banyak membantu aku. Aku ingin
membalas semua kebaikan dia. Bagiku dia dewasa banget buat aku.
Suatu hari, aku pengen banget ketemu sama dia. Aku mencoba buat telpon dia.
Kriing. . .kriiinngg. . .kriiinng . . .
“Hallo, Assalamu’alaikum…!!” Angkat seseorang yang kupikir itu Andi.
“Wa’alaikumsalam…!!” Jawabku santai.
“Ini siapa ya ?? “ Tanyanya kepadaku.
“Lho…kok lupa. Lupa beneran apa pura-pura lupa ?” Jawabku sambil bercanda.
“Ini siapa sich…maaf ya aku nggak kenal kamu siapa.” Dia menegaskan.
“Udah dech…nggak usah mulai lagi. Kamu lagi kerja ?” Aku mulai serius.
“Lho
kamu ini lho siapa ? Aku nggak tau kamu ini siapa tiba-tiba kamu
tanya-tanya tentang aku. Jangan sok kenal dech…!!” Dia nggak terima dan
marah-marah sama aku karena dia merasa tidak mengenali aku.
Aku
sendiri merasa heran, kenapa Andi nggak mengenali aku. Suaraku pun dia
nggak tau. Aku sempat berfikiran kalau yang aku telpon bukan Andi. Tapi
anehnya, suara orang dalam telpon itu adalah suara Andi.
“Kamu Andi kan ? temanku yang sering ngatain aku cerewet ?” Tanyaku heran.
“Andi siapa ? Aku bukan Andi. Aku Irfan. Kamu salah orang.” Penjelasan dia meyakinkanku.
“Nggak mungkin aku salah orang. Ini nomornya Andi.” Aku tetap nggak percaya.
“Maaf ya…?!! Aku memang bukan Andi, aku ini Irfan.” Sekali lagi dia meyakinkanku.
Sebenarnya apa sich yang terjadi ? aku ngerasa bingung banget. Emang aku yang salah orang atau Andi yang ngerjain aku…??
“Kamu temannnya Andi ya ? Yang pinjem HP-nya Andi ?” Keherananku memperjelas situasi.
“Ya
udah, gini aku jelasin. Namaku Irfan. Dari tadi kamu ngira kalau aku
ini Andi. Mungkin yang kamu maksud adalah Andi temanmu yang juga sama
dengan Andi temanku.” Penjelasan singkat Irfan.
“Jadi kamu beneran bukan Andi ?” Aku sedikit ragu.
“Bukan. Aku ini temannya.” Jawab dia singkat.
“Trus kenapa HP-nya dia bisa ada di kamu ?” Aku masih bingung.
“HP-nya
dijual ke aku. Baru tadi pagi Andi memberi HP ini ke aku. Tuk sementara
nomornya tak pakai. Mungkin satu minggu.” Penjelasan dia santai.
“Owh...
Aku minta maaf ya ? Aku udah salah orang. Aku kira kamu Andi. Soalnya
Andi nggak bilang sama aku kalau HP-nya dijual. Jadi aku nggak tau
apa-apa. Sekali lagi aku minta maaf ya ?” Permohonan maafku penuh
penyesalan.
“Iya nggak apa-apa….” Jawabnya singkat.
Terjawab
sudah semua keanehan yang aku rasakan. Ternyata yang aku telpon adalah
Irfan, teman Andi. Aku minta maaf sama Irfan karena dari awal aku ngotot
kalau dia adalah Andi.
“Eh,… udah dulu ya ? Aku udah masuk kerja.” Permohonan dia kepadaku.
“Oh iya… maaf ya aku udah ganggu waktu kamu...” Aku masih merasa bersalah.
“Nggak apa-apa kok. Kamu sama sekali nggak ganggu aku” Dia menenangkanku.
“Ya udah kamu lanjutin kerja kamu. Salam kenal aja ya ?” Aku udah lega.
“Iya. Salam kenal juga. Udah dulu ya ? Assalamu’alaikum…!!” Dia mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam...!!” Jawabku.
Disamping
aku lega, entah kenapa aku masih nggak yakin kalau dia bukan Irfan,
tetapi Andi. Suaranya itu mirip banget dengan suara Andi. Setelah aku
pikir-pikir, udahlah aku cuek aja. Mungkin cuma perasaanku aja kalau
tadi itu Andi, karena aku pengen banget ketemu sama Andi. Nggak mungkin
juga Andi ngebohongin aku.
Udah
beberapa hari aku nggak pernah berkomunikasi sama Andi. Aku nggak tau
kabar dia, karena dia nggak ngasih tahu nomor barunya ke aku. Aku juga
nggak pernah ketemu sama dia. Akhirnya aku sering berkomunikasi sama
Irfan. Dia orangnya care kok…! Meskipun aku baru kenal sama dia, tapi
aku ngerasa kalau aku dekat banget sama dia. Aku ngerasa kalau dia udah
nggak asing lagi. Suara dia mengingatkan aku sama Andi.
Suatu hari, Irfan telpon aku.
Kriiinngg……kriiingg…..kriinggg…
“Assalamu’alaikum…!!” Salamku kepada Irfan.
“Wa’alaikumsalam…!!” Irfan menjawab salamku.
“Ada apa ? Kok tumben telpon...” tanyaku santai.
“Emmm…nggak ada apa-apa sich, cuma pengen ngomong-ngomong sama kamu. Emang nggak boleh ?” Dia mulai ngajak becanda.
“Ya boleh-boleh aja sich…” Jawabku malu.
“Oh ya kamu nggak sibuk kan ?” Tanyanya santai.
“Nggak kok, emang kenapa ?” Aku merasa heran.
“Ya aku takut aja ganggu kamu.” Jawab dia memelas.
“Nggak
kok, kamu sama sekali nggak ganggu aku. Oh ya, kita kan baru saja
kenal, belum sampai satu minggu. Tapi kenapa ya aku ngrasa kayaknya kamu
nggak asing lagi. Aku tuh ngerasa udah kenal banget sama kamu. Mungkin
cuma perasaanku aja kali ya ?” Keherananku mulai muncul.
Setelah
aku ngomong seperti itu, tiba-tiba saja Irfan terdiam. Dia nggak
ngeluarin sepatah kata pun, kayaknya dia sedang mikirin sesuatu. Aku
ikut terdiam karena kebingunganku. Sejenak dia menjawab
“Masak
sich….. kamu aneh dech. Kita baru saja kenal masak kamu ngerasain
seeprti itu. Kamu teringat Andi mungkin ?” Dia nggak percaya omonganku.
“Beneran aku emang ngerasain seperti itu. Udahlah nggak usah dibahas lagi, perasaanku aja mungkin.” Jawabku dengan nada memelas.
“Jangan memelas kayak gitu dong… jadi ngerasa bersalah nich aku...” Irfan merendahkan diri.
“Udahlah… Jangan saling ngerasa bersalah kayak gini.” Aku mencoba mencairkan suasana.
“Kamu kok hari ini lemas banget, nggak semangat gitu. Kamu lagi ada masalah ?” Irfan ngerasain keanehan pada diri aku.
“Emmm... Gimana ya ? Dibilang ada masalah sich nggak juga. Aku ngerasa bingung aja.” Aku membuat Irfan penasaran.
“Kalau aku boleh tau, kamu bingung kenapa ?” Tanya Irfan heran kepadaku.
Aku
terdiam sejenak. Aku ngomong sama Irfan apa nggak tentang masalahku,
karena aku baru kenal sama dia. Takutnya nanti dia nggak bisa jaga
masalahku ini. Aku itu paling takut kalau ada orang lain yang
membeberkan masalahku. Tapi hati kecilku mengatakan kalau Irfan bukan
orang seperti itu. Dia nggak akan membeberkan masalah yang akan aku
ceritakan sama dia. Aku nggak tau kenapa, aku ngerasa percaya banget
sama Irfan. Aku seperti menemukan sesosok teman yang bisa melindungi aku
seperti yang aku rasakan saat berteman dengan Andi.
“Lho kok diam ? Kalau kamu nggak mau cerita sama aku juga nggak apa-apa kok. Aku nggak maksa” Irfan mengalah.
“Sebenarnya
sich aku nggak ada masalah, cuma aku bingung aja. Akhir-akhir ini
cowokku nggak perhatian lagi sama aku. Aku nggak tau apa yang membuat
dia kayak gitu. Entah ada yang salah dari diri aku atau emang dia udah
nggak sayang lagi sama aku. Aku bingung harus tanya sama siapa. Aku
percaya sama kamu, makanya aku cerita ke kamu biar bebanku terasa
berkurang.” Aku memulai cerita masalahku ke Irfan.
“Owh,…
jadi itu yang membuat kamu hari ini nggak semangat ? Nggak usah terlalu
difikirin. Mungkin cowok kamu capek, atau mungkin cowok kamu lagi ada
masalah sama kerjaannya juga. Kamu jangan nganggap dia udah nggak
perhatian lagi sama kamu. Kamu masih percaya sama cowok kamu kan ?”
Saran Irfan menenangkanku.
“Aku percaya banget sama dia. Ya…mungkin aku aja yang kurang ngerti keadaan dia.” Jawabku atas saran Irfan.
“Positif
thinking aja. Yang namanya pacaran wajar kalau ada masalah. Semua orang
juga pasti akan mengalaminya.” Irfan semakin menenangkanku.
“Iya….terima
kasih banyak ya ? Kamu mau dengerin ceritaku. Terima kasih juga kamu
udah ngasih saran buat aku. Aku sekarang jadi lebih tenang.” Kepuasanku
atas saran Irfan.
Jujur,
aku ngerasa heran banget dech. Perhatian yang diberikan Irfan buat aku
sama banget dengan perhatian Andi dulu ke aku. Cara dia ngomong, cara
dia nyuruh aku buat sabar, dan cara dia nuntun aku buat menyelesaikan
masalah mengingatkanku pada sesosok Andi. Kenapa sich aku selalu
merasakan kayak gini ? Kenapa aku selalu merasakan ada sesosok Andi pada
diri Irfan ? sampai sekarang aku masih bertanya-tanya tentang hal itu.
Tapi aku yakin, suatu saat nanti, aku pasti menemukan jawabannya.
“Emmm… Aku mau ngasih tau kamu tentang sesuatu.” Irfan tiba-tiba membuatku penasaran.
“Apa ???” Tanyaku heran.
“E…e…e… gimana ya ? Nggak jadi dech…. “ Irfan ragu dengan yang mau diomongin.
“Lhoo…kok nggak jadi ? Ada apa sich ? Nggak apa-apa ngomong aja.” Aku semakin bingung.
“Aku takut kamu marah sama aku.” Ketakutan Irfan sama aku.
“Kamu
aneh ya ? Kamu kan nggak punya salah apa-apa sama aku. Kamu udah bantu
aku. Tapi kenapa kamu malah takut aku marah sama kamu ? Justru aku
berterima kasih banget sama kamu.” Kebingunganku sambil membuat Irfan
tenang.
“Tapi aku masih takut kamu marah sama aku. Aku takut kamu nggak mau jadi temanku lagi.” Keraguan Irfan semakin besar.
“Aku
janji, aku nggak akan marah sama kamu. Aku juga tetap nganggap kamu
sebagai temanku, teman yang selalu ada buat aku. Nggak mungkin juga aku
melupakan kamu. Aku udah menganggap kamu lebih dari teman. Aku menemukan
perhatian dari sesosok kakak yang aku dapatin dari kamu.” Penjelasanku
kepada Irfan untuk mencairkan suasana.
“Terima
kasih banget kamu udah nganggap aku lebih dari teman. Sebenarnya aku
sangat mengharapkan itu semua. Sebelumnya aku mau tanya sama kamu,
selama ini yang kamu rasain, siapa sich diriku sebenarnya ? Dari
suaraku, perhatian aku ke kamu…” Irfan mulai menjelaskan maksudnya.
“Kalau
menurutku, suara kamu itu mirip banget dengan suara Andi. Perhatian
kamu juga sama dengan apa yang dilakukan Andi ke aku. Dulu aku
menganggap Andi adalah kakak buat aku, karena dia begitu mengerti aku
dan bisa ngelindungi aku. Tapi satu minggu ini dia menghilang, nggak ada
kabar sama sekali. Saat itu, aku mulai kenal sama kamu. Meskipun baru
sebentar kita kenal, tapi aku menemukan sesosok kakak dari diri kamu.
Aku ngerasa aku kenal banget sama kamu. Bagiku, sesosok kakak yang dulu
hilang sekarang kembali lagi.” Urai panjangku kepada Irfan.
“Semua yang kamu rasakan itu benar.” Pernyataan Irfan mengagetkanku.
“Maksudnya ??” Kekagetanku dengan suara lantang.
“Aku udah ngebohongin kamu. Irfan dan Andi adalah satu. Aku ini Andi yang juga Irfan.” Penjelasan Irfan singkat.
Aku tetap nggak percaya dengan pernyataan Irfan kalau dia adalah Andi. Nggak mungkin juga Irfan ngerjain aku kayak gini.
“Apa sich maksud kamu ? Aku nggak ngerti. Kamu becanda kan ?” Aku nggak percaya dengan pernyataan Irfan.
“Aku nggak becanda. Aku ini serius. Tolong jangan marah sama aku. Aku tahu aku yang salah.” Irfan mencoba meyakinkanku.
Kenyataannya
memang seperti itu. Irfan udah ngebohongin aku. Dia udah ngerjain aku.
Aku kaget banget, setelah tau langsung dari Irfan sendiri kalau dia
benar-benar ngebohongin aku.
“Jadi kamu ngebohongin aku ? Kenapa kamu ngelakuin itu ? Aku punya salah sama kamu ?” Aku tetap nggak terima.
“Dengerin penjelasanku dulu, aku ngelakuin semua itu pasti ada maksudnya…” Penjelasan Irfan tiba-tiba terhenti.
“Maksud apa ?? Maksud ngebohongin aku ? Iya ??” Aku memotong penjelasan Irfan.
“Bukan
begitu, aku cuma pengen tau, sebenarnya kamu nganggap aku ini siapa
sich ? Seberapa penting aku buat kamu,… cuma itu. Aku nggak ada maksud
buat nyakitin perasaan kamu. Kamu jangan salah paham sama aku…”
Penjelasan Irfan meyakinkanku.
“Tapi kenapa kamu harus ngelakuin kayak gini ? Kamu nggak mikir gimana perasaanku…” Aku membela diriku.
“Mungkin aku salah ngelakuin kayak gini. Aku minta maaf sama kamu.” Irfan merasa bersalah karena perbuatannya.
“Nggak
segampang itu kamu minta maaf. Kamu nggak pernah tau rasanya dibohongin
orang yang sangat kita percaya itu gimana. Yang kamu tau, kamu hanya
mikirin perasaan kamu.” Penjelasanku singkat sambil nangis.
“Kalau
kamu marah sama aku, kamu marah aja. Emang aku yang salah. Aku nggak
mikirin perasaan kamu. Tapi jujur aku nggak ada maksud buat nyakitin
perasaan kamu. Kamu jangan nangis lagi.” Irfan menenangkanku.
Hatiku
sakit banget Irfan udah ngebohongin aku. Tapi hati ini nggak bisa benci
sama dia. Selama ini dia udah terlalu baik sama aku.
“Aku
memang menganggap kamu sebagai kakak aku. Tapi kamu jangan segampang
itu ngebohongin aku. Sulit menemukan orang yang bisa kita percaya dan
bisa melindungi kita. Disaat aku udah menemukan itu semua, kamu malah
membuat aku kecewa.” Penjelasanku dengan suara tersedu.
“Sekarang hapus air matamu. Kalau kamu sedih, aku juga ikut sedih.” Irfan berusaha menenangkanku.
“Kali ini aja kamu buat aku sedih kayak gini.” Permintaanku kepada Irfan.
“Iya, aku janji. Ini yang pertama dan terakhir kali aku ngelakuin kayak gini.” Irfan menyetujui permintaanku.
Setelah
Irfan berusaha menenangkanku, aku sekarang jauh lebih tenang. Aku udah
nggak nangis lagi. Suasana juga udah mulai mencair. Sekarang kami mulai
belajar saling percaya satu sama lain sebagai kakak dan adik biar nggak
ada kebohongan dan salah paham lagi.
“Sekarang aku udah tau gimana perasaan kamu sesungguhnya. Sekarang kamu udah tenang kan ?” Irfan mulai merasa lega.
“Udah
mendingan daripada tadi. Terima kasih atas pengertian kamu dan kamu mau
jadi kakak aku, meskipun kenyataannya kita adalah teman.” Aku udah
mulai tersenyum.
Begitu
kecewanya aku tadi. Tapi di sisi lain kejadian ini sangat berkesan buat
aku. Aku jadi lebih mengerti siapa Irfan alias Andi sebenarnya. Begitu
berharga aku mempunyai seorang kakak, meskipun kami nggak ada hubungan
darah. Tapi berawal dari pertemanan dan persahabatan, aku bisa menemukan
sesosok kakak dari dirinya. Aku sangat sayang sama dia sebagai kakakku.
Begitu juga sebaliknya, dia juga sayang banget sama aku. Begitu tulus
semua kasih sayang yang dia berikan buat aku sebagai adiknya.
“Telponnya udah dulu ya, aku mau mandi. Udah jam 16.30 WIB. Entar aku dimarahin ibu.” Aku mengakhiri pembicaraan.
“Iya,. Aku juga mau main sepak bola sama teman-teman. Sekali lagi aku minta maaf ya ?” Andi masih ngerasa bersalah.
“Iya nggak apa-apa. Udah dech nggak usah minta maaf lagi.” Kerisihanku karena Andi minta maaf terus.
“Ok…ok…!! Aku janji akan jadi kakak yang baik buat kamu. Aku nggak akan mengecewakan kamu lagi.” Janji Andi padaku.
“Hmmm…Aku nggak butuh janji. Tapi aku butuh bukti.” Aku menyangkal janji Andi.
“Iya – iya... Pasti aku buktiin kok. Percaya dech sama aku. Ok...!!” Andi masih meyakinkanku.
“Ok... Katanya mau main sepak bola, ya udah sekarang siap-siap lho…” Sedikit perhatianku sama Andi sebagai seorang adik.
“Ok…!! Assalamu’alaikum….!!” Salam Andi.
“Wa’alaikumsalam…!!” Jawabku.
Aku
pun segera mandi. Selesai mandi, aku duduk-duduk di teras rumah.
Kejadian yang aku alami tadi selalu kuingat. Aku serasa mimpi, aku nggak
percaya kalau aku sekarang punya seorang kakak, kakak yang sangat
menyayangi aku. Harapanku udah terkabul buat memiliki seorang kakak.
Begitu beruntungnya aku ini. Tak ada ungkapan yang bisa ku ucapkan buat
menggantikan rasa senang yang aku rasakan.
Sore pun berganti malam. Tiba-tiba HP aku bunyi. Ternyata Andi memanggil.
“Hallo... Assalamu’alaikum…!!” Salamku sambil mengangkat telpon.
“Wa’alaikumsalam…!! Kamu lagi ngapain ?” Tanya Andi kepadaku.
“Nggak ngapa-ngapain kok, emang ada apa ?” Tanyaku heran.
“Emmm… boleh nggak aku sekarang main ke rumahmu ?” Andi minta izin sama aku.
“He’em kesini aja. Nggak apa-apa.” Jawabku singkat.
“Beneran nich nggak apa-apa ?” Andi meragukan jawabanku.
“Iya,
beneran nggak apa-apa. Gitu aja pakai minta izin dulu. Masak kakak mau
main ke rumah adiknya nggak boleh ? Kalau mau kesini, langsung aja
kesini, nggak perlu malu-malu.” Aku mencoba meyakinkan.
“Tapi
aku takut nanti kalau udah di rumah kamu, kamu mukulin aku, marah -
marahin aku, gara-gara masalah tadi siang.” Ketakutan masih dirasakan
oleh Andi.
“Nggak
mungkin aku mukulin dan marah - marahin kamu. Masak anak orang
diperlakukan kayak gitu… nggak mungkin banget kan ?” Lagi-lagi aku
meyakinkan Andi.
“Kali aja kamu masih ada perasaan marah sama aku.” Andi masih nggak yakin.
“Udah dech… nggak percaya sama adiknya ya ?” Tanyaku sedikit kesal.
“Bukan begitu, aku percaya banget sama kamu. Ya udah bentar lagi aku kesitu.” Andi sudah merasa yakin buat ke rumahku.
“Ok dech… tak tunggu.” Jawabku singkat.
“Ok… Assalamu’alaikum…!!” Andi mennggakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam...!!” Aku menjawab salamnya.
Aku
pun menunggu kedatangan Andi dengan senang hati. Hampir dua minggu
lebih Andi tidak kesini. Apakah ada perubahan pada dirinya, aku juga
nggak tau. Selama ini aku hanya telpon-telponan saja sama dia.
Tak berapa lama kemudian dia udah datang.
“Assalamu’alaikum…!!” Salam dia didepan pintu.
“Wa’alaikumsalam…!! Ayo silahkan masuk, silahkan duduk.” Jawabku sambil mempersilahkan masuk.
Andi hanya tersenyum dan langsung duduk. Aku segera mengambilkan dia minum dan beberapa camilan buat menemani kami ngobrol.
“Oh ya, tumben kesini ? Kirain udah nggak mau ke rumahku lagi.” Tanyaku sambil becanda.
“Hmmm… tuh kan ? Mulai dech... Aku juga pengen kan ke rumah adikku.” Andi nggak mau kalah.
“Iya juga sich,.. aku juga pengen kakakku main kesini.” Aku juga nggak mau kalah.
“Aku
kesini itu sebenarnya pengen minta maaf secara langsung sama kamu atas
kesalahanku beberapa hari ini.” Penjelasan Andi kepadaku
“Tuh kan ? Bahas itu lagi dech…” Aku mulai kesal.
“Gini
lho dik, aku mau ngelurusin semuanya, biar nggak ada salah paham lagi.
Kemarin yang aku lakuin itu benar-benar pengen tau ketulusan kamu aja.
Ternyata kamu emang tulus nganggap aku aku sebagai kakak kamu.
Sebelumnnya aku nggak menyangka kalau kamu menganggap aku seperti itu.”
Penjelasan Andi membuat hatiku luluh.
“Aku
kan pernah bilang sama kamu, aku ngedapetin semua kasih sayang seorang
kakak itu dari kamu. Kamu juga udah ngerti kan kalau aku dari dulu
pengen banget punya seorang kakak, kakak yang bisa ngertiin dan
ngelindungi aku. Sedangkan aku ini terlahir menjadi anak pertama. Nggak
mungkin juga aku punya kakak sedarah. Tapi aku nggak patah semangat. Aku
kenal sama kamu dan percaya kalau kamu bisa melindungi aku, hingga
akhirnya aku nganggap kamu sebagai kakakku, itu udah lebih dari cukup.
Aku nganggap kamu kakak sedarah aku.” Aku memberi penjelasan serius
hingga membuat suasana hening.
“Dari
semenjak kita kenal, aku juga pengen banget kamu jadi adik aku.
Sekarang keinginanku buat punya adik terjawab sudah. Terima kasih banget
ya kamu mau jadi adik aku ?” Jawab Andi sambil mengelus kepalaku.
Suasana
menjadi haru karena keinginan yang sangat nggak mungkin terjadi,
akhirnya terwujud juga. Kami sangat nggak menyangka kalau kami bisa
mengalami kejadian seperti ini.
“Jadi, beneran nich kita jadi kakak adik ?” Tanyaku memperjelas lagi.
“He’em, kakak adik yang saling menyayangi.” Jawaban Andi meyakinkanku.
“Janji
ya ? Kalau kita nggak akan saling mengecewakan dan harus saling
menyayangi…” Persyaratanku sambil mengangkat jari kelingking.
“Janji !” Jawab Andi singkat sambil mengangkat jari kelingkingnya dan menyatukannya dengan jariku.
“Selamanya kita akan jadi kakak dan adik sejati.” Ucapku sama Andi bersamaan.
Akhirnya
aku menemukan sesosok kakak dari diri Andi dan Andi juga menemukan
sesosok adik dari diri aku. Kamu berjanji akan selalu menyayangi dan
nggak akan mengecewakan satu sama lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar